Header Ads

Cara dan Tips Memilih Naskah Teater

Tips Memilih Lakon Teater

SENITULAR - Ada perbedaan pendapat mengenai faktor pertunjukan teater yang dikatakan baik atau buruk. Misal dalam pemilihan naskah atau lakon. Beberapa seniman mengatakan 70% pementasan baik berdasar pemilihan naskah, namun ada pula yang mengatakan pementasan baik atau buruk sama sekali tidak tergantung pada lakon yang dipentaskan tapi bagaimana kegelisahan sutradara dapat dituangkan atau dikomunikasikan kepada penonton (penerima pesan) dengan sempurna.

Seperti yang sempat dikatakan oleh Putu Wijaya bahwa seorang sutradara merupakan peran sentral dalam sebuah pertunjukan, ada beberapa lakon yang bisa dikatakan jelek namun ditangan sutradara cerdas akan menjadi luar biasa pun sebaliknya.

Lantas bagaimana memilih lakon yang baik sehingga menunjang pertunjukan yang berkualitas?

  1. Menentukan tema lakon yang relevan dengan dengan keperluan pementasan atau kegelisahan sutradara
  2. Konflik yang cukup tajam ditandai dengan plot yang mengejutkan dan dialog yang tegas.
  3. Watak pelaku harus mengandung pertentangan yang menunjang ketajaman konflik
  4. Bahasa mudah dihayati dan komunikatif
  5. Mempunyai kemungkinan pementasan.

Setelah menentukan naskah dilanjutkan dengan penafsiran naskah yang disusul dengan pelatihan baca naskah tersebut. Pada tahap ini sutradara harus mengupas tuntas isi dan pesan naskah drama. Pemahaman dilakukan dengan keseluruhan teks drama yang dimaksud. Hal ini untuk mengungkap karakter tokoh secara jelas berikut latarbelakang tokoh dan latar plot.

Dalam suatu pementasan naskah lakon masalah utama yang didapati sutradara dengan awak pentas ialah bagaimana medium verbal sastrawan dapat diterjemahkan dan bahkan diperkuat daya ungkapnya dengan media audio visual, kinetik, dan verbal dalam menyampaikan nilai-nilai pengalaman itu dalanm wujud secara visual. Naskah yang baik, dapat dikatakan bila naskah itu kaya dengan ide-ide, baik dilihat dari sudut filsafat, sosial, kultural, puitis dan asli bukan tiruan.


Baca Juga : Apa Itu Seni Teater? Berbeda dengan Drama


Dari ide-ide yang ditawarkan penulis naskah, ada perjalanan penafsiran, ada perjalan kreatif yang harus ditempuh untuk mewujudkan (mevisualisasikan) teks-teks dalam naskah (lakon).

Seorang sutradara juga harus mampu melihat Sumber Daya yang ada dalam melakukan proses pementasan, sumber daya bisa berupa pendanaan, kualitas dan kuantitas pemain dan kondisi waktu dan tempat. Sehingga sutradara merasa mampu melakukan dengan segala risiko proses dari awal sampai pementasan. Dituntut kecermatan dalam melihat berbagai aspek untuk menjadi sutradara dengan garapan yang baik.

Selain latar belakang teks drama, sutradara juga harus mampu mengimajinasikan tentang etika dan estetika panggung ketika pementasan terjadi. Etika adalah bagaimana pertunjukan menonjolkan kreativitas penggarap tanpa melalaikan norma-norma pertunjukan teater. Sedangkan estetika dalah keindahan dalam sebuah pementasan yang dinikmati oleh penonton.

Dalam suatu pementasan naskah lakon masalah utama yang didapati sutradara dengan awak pentas ialah bagaimana medium verbal sastrawan dapat diterjemahkan dan bahkan diperkuat daya ungkapnya dengan media audio visual, kinetik, dan verbal dalam menyampaikan nilai-nilai pengalaman itu dalanm wujud secara visual.

Naskah yang baik, dapat dikatakan bila naskah itu kaya dengan ide-ide, baik dilihat dari sudut filsafat, sosial, kultural, puitis dan asli bukan tiruan. Dari ide-ide yang ditawarkan penulis naskah, ada perjalanan penafsiran, ada perjalan kreatif yang harus ditempuh untuk mewujudkan (mevisualisasikan) teks-teks dalam naskah (lakon).

Seorang sutradara juga harus mampu melihat Sumber Daya yang ada dalam melakukan proses pementasan, sumber daya bisa berupa pendanaan, kualitas dan kuantitas pemain dan kondisi waktu dan tempat.

Sehingga sutradara merasa mampu melakukan dengan segala resiko proses dari awal sampai pementasan. Dituntut kecermatan dalam melihat berbagai aspek untuk menjadi sutradara dengan garapan yang baik.***

No comments

Powered by Blogger.